SMK NEGERI 2 MAGELANG

Jalan Jend. Ahmad Yani 135 A, Kramat Selatan, Magelang Utara, 56115 Magelang, Jawa Tengah

Selamat datang di website resmi SMK N 2 Magelang

“Hari Kemerdekaan, Pandemi Covid-19, dan Citra Guru: Sebuah Refleksi”

Senin, 17 Agustus 2020 ~ Oleh Administrator ~ Dilihat 207 Kali

“Hari Kemerdekaan, Pandemi Covid-19, dan Citra Guru:

Sebuah Refleksi”

Oleh: Murtiningsih, S.Pd., M.Pd.

(Guru BK SMKN 2 Magelang)

 

Hari ini tanggal 17 Agustus 2020, seluruh bangsa Indonesia memperingati Hari Ulang Tahun ke-75 Kemerdekaan RI. Sungguh jauh berbeda dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya untuk menyemarakkan HUT Kemerdekaan RI tahun ini. Tidak ada hingar bingar lomba anak-anak, parodi ibu-ibu, pentas seni, panjang pinang, karnaval, dan aktivitas lain yang biasa kita selenggarakan untuk memeriahkan HUT Kemerdekaan RI. Kita hanya sedikit melihat aktivitas mempercantik kampung dengan memasang umbul-umbul, mengecat sebagian sudut kampung, memasang lampu hias, dan menyediakan makanan dalam malam tirakatan yang sederhana dan terbatas dengan tetap mematuhi protocol kesehatan.

Memasuki usia yang ke-75, bangsa Indonesia dan juga bangsa-bangsa lain di dunia telah dan sedang diuji dengan pandemi Corona Virus Desease (Covid-19). Pandemi yang telah mengubah sendi-sendi kehidupan masyarakat dunia dan juga bangsa Indonesia dalam semua aspek termasuk dunia pendidikan.  Sejak dinyatakan sebagai pandemic nasional di bulan Maret 2020, dunia pendidikan dihadapkan pada tantangan yang berat. Semua tidak normal, tidak ada tatap muka pembelajaran, tidak ada ekstrakurikuler, tidak ada jabat tangan, semua jaga jarak, tidak ada ujian nasional, tidak ada wisuda akhir tahun, tetapi praktik-praktik kalender pendidikan harus diikuti sebagai bagian dari tradisi akademik yang harus dilaksanakan. Semua stakehoders pendidikan, pemerintah, pejabat pendidikan, pemerhati pendidikan, pengawas sekolah, kepala sekolah, guru, siswa, dan orang tua siswa, serta stake holders yang lain dihadapkan pada situasi yang baru dan kini memang benar-benar menghadapi dunia yang baru, kebiasaan yang baru yakni “Era Kenormalan Baru”.

Dalam konteks pendidikan, khususnya guru dalam masa kenormalan baru ini memiliki peran yang strategis. Kehebatan guru dalam masa ini ditentukan seberapa cepat dan cerdasnya guru untuk mampu beradaptasi dengan situasi yang tidak pernah diprediksi dan tidak pernah dipelajari selama masa kuliah serta tidak pernah dididik menghadapi situasi ini selama masa dalam jabatan guru. Semua dibuat jengah karena situasi yang sungguh di luar prediksi kita. Oleh karena itu, citra guru akan dipertaruhkan apakah kita memang pantas disebut sebagai agen perubahan di era Revolusi industri 4.0 atau kita tenggelam akan stigma guru yang selalu dipandang sebelah mata atau kita lupakan ide-de mengangkat citra dan martabat yang diperjuangkan oleh organisasi profesi guru pada akhir abad ke-20 silam (Dedi Supriadi, 1988).

Tentunya kita masih teringat dan membekas ide baru Mas Menteri Pendidikan dan Kebudayaan di awal menjabat tahun yang lalu. Tagline Guru Merdeka Mengajar dan Siswa Merdeka Belajar digaungkan untuk mendobrak keterkungkungan kecukupan administrasi tetapi miskin kreativitas. Kita masih ingat ketika Kurikulum baru dikritik, Pedoman mengajar guru dikritik, cara mengajar guru dikritik, cara kepala sekolah mengelola pendidikan dikritik, seluruh stakeholders tidak luput dari kritik. Muncullah ide pedoman guru diubah cukup satu lembar. Siswa harus merdeka belajar dari manapun sumbernya tanpa tergantung pada guru. Dalam konteks yang lain, juga dituntut Kepala Sekolah Merdeka Mengelola Sekolah, Pengawas Merdeka Menyelia Guru, Kepala Sekolah, dan Dunia Pendidikan, dan Pejabat Pendidikan juga harus Merdeka dalam mengambil kebijakan yang memungkinkan guru, siswa, kepala sekolah, dan pengawas sekolah untuk merdeka menuangkan ide-ide cerdas dan cemerlang dalam dunia pendidikan.

Kini ide bagus itu tentang merdeka dalam konteks HUT Kemerdekaan RI tahun ini selayaknya akan menghadapi ujian. Dengan kemerdekaan dan atribut merdeka tersebut, guru tidak boleh mengeluh, tidak boleh putus asa, tidak boleh marah dikritik, dan tidak boleh berhenti berkreativitas di era kenormalan baru pada dunia pendidikan. Terus berkarya untuk mencari dan menerapkan ide baru dalam mendidik yang mengantarkan peserta didik menjadi insan cerdas, santun, trampil, nasionalis, peka sosial, dan banyak perolehan belajar lainnya untuk menjadi manusia paripurna siap menghadapi perubahan di era kenormalan baru. Kita juga harus menyadari bahwa tidak harus sama dalam berkreativitas karena kita merdeka. Ketika semua beramai-ramai belajar online dan memakai platform tertentu untuk belajar di rumah, maka kita tidak bisa serta merta untuk menuntut guru dan siswa harus menggunakan cara ini atau guru mengeluh untuk menuntut fasilitas cara pembelajaran seperti ini karena kita Indonesia yang beragam secara geografis, sarana prasarana, serta ketersediaan sumber daya yang berbeda. Saatnya kita berubah tidak harus sama tetapi hasilnya harus setara walau tidak sama. Inilah kado HUT ke-75 Kemerdekaan RI bagi guru sebagai momen untuk mengangkat citra dan martabat guru sebagai agen perubahan di era millennial. Setiap momen adalah refleksi untuk berbuat lebih baik. Selamat Ulang tahun ke-75 Kemerdekaan RI, semoga jaya Indonesia, jaya guru, dan jaya pendidikan kita. Merdeka!!! (Murtiningsih, S.Pd., M.Pd., 2020)

KOMENTARI TULISAN INI

  1. TULISAN TERKAIT